Oleh: KH. Bachtiar Nasir
Kemenangan puncak bukanlah pada saat bergelimang prestasi duniawi, tapi ketika seseorang dimasukkan ke dalam kelompok orang beriman di surga kelak. Saat itu, cahaya menerangi bagian depan mereka.
Untuk meraih kemenangan hakiki itu, hanya bisa dicapai dengan jalan takwa. Tidak ada alternatif lain. Allah Subahahu wa ta’ala menggambarkan perumpamaan yang sangat jelas dalam Al-Qur’an mengenai orang menang dan orang kalah. Perumpamaan itu termaktub dalam surah Al-Lail ayat 1-4 berikut ini:
وَالَّيۡلِ اِذَا يَغۡشٰىۙ {1}وَالنَّهَارِ اِذَا تَجَلّٰىۙ {2} وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالۡاُنۡثٰٓىۙ {3}اِنَّ سَعۡيَكُمۡ لَشَتّٰىؕ{4}
“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang) [1], dan demi siang apabila terang benderang,[2] demi penciptaan laki-laki dan perempuan,[3] sungguh, usahamu memang beraneka ragam. [4]” (QS. Al-Lail [92]: 1-4)
Dalam ayat ini, pemenang dari kalangan orang beriman laksana cahaya siang, dan orang kafir seperti kegelapan malam. Ketika manusia diminta untuk memerhatikan malam, maka itu bukan tanpa alasan, sebab Allah Ta’āla sedang bersumpah atas nama malam. Kendati demikian, bukan seluruh malam yang diminta untuk diperhatikan. Malam yang dimaksud dalam ayat ini dijelaskan dalam surah Adh-Dhuha ayat 2, “Dan Demi malam apabila telah sunyi.”
Biasanya, malam dimulai saat senja terbenam dan berakhir saat fajar menyingsing di ufuk timur. Namun, dalam ayat tersebut, manusia diminta untuk memerhatikan malam ketika sudah gelap-gulita atau sunyi. Maka perhatikanlah apa yang terjadi dalam zona waktu tersebut! Tanpa cahaya, mata telanjang manusia tidak lagi bisa melihat benda apapun.
Demikian halnya para musafir akan tersesat di tengah padang pasir. Pelaut akan kebingungan tanpa kompas ketika malam sudah menutup mereka. Semua itu terjadi hanya karena separuh bumi membelakangi matahari, sebagai sumber cahaya. Bumi tidak lagi mendapatkan cahaya matahari. Pada kondisi itu, terjadilah malam yang gelap.
Pada ayat kedua, manusia juga diminta untuk memerhatikan siang. Siang terbentang dari waktu syurūq atau matahari terbit sampai menjelang magrib. Manusia tidak diminta memerhatikan siang pada waktu terbit matahari dan waktu senja. Kalimat (اِذَا تَجَلّٰىۙ) artinya manusia diminta memerhatikan siang ketika mulai terang.
Momen pada saat siang mulai terang akan menampakkan semua benda-benda, jalanan menjadi terang, hingga jurang tampak jelas. Definisi siang adalah ketika cahaya matahari menerpa separuh bumi. Jika bumi sedang membelakangi matahari, maka akan gelap sebagiannya. Sedangkan siang terjadi ketika sebagian bumi menghadap matahari.
Satu penekanan penting dari ayat di atas adalah penciptaan kegelapan dan cahaya. Sebelum matahari diciptakan dan benda-benda menghadap matahari, pada hakikatnya semua berada dalam kegelapan. Allah Ta’āla terlebih dahulu menciptakan kegelapan, lalu terang. Ini sama halnya dengan manusia yang terlahir dalam keadaan sesat, kecuali mereka yang sudah tercahayakan dengan cahaya ilahi.
Setelah Allah Ta’āla bersumpah atas nama malam yang gelap gulita dan siang yang terang benderang, Dia juga bersumpah dengan penciptaan laki-laki dan perempuan. Tidak ada satu manusia pun yang mampu menentukan identitasnya, lahir di mana, dalam rahim siapa, kapan dan bagaimana caranya lahir. Tidak ada satu pun orang tua yang bisa menentukan apakah akan melahirkan anak perempuan atau laki-laki.
Allah Ta’āla hendak menjelaskan tentang qudrah atau kuasa-Nya melalui penciptaan laki-laki dan perempuan. Tidak ada yang bisa merekayasa. Meski teknologi mengenal teori kromosom, tapi tidak bisa menentukan jenis kelamin saat mengandung. Pada akhirnya semua bergantung pada kuasa Allah Subhanahu wa Ta’āla.
Hal menarik lainnya adalah keseimbangan yang terjadi di muka bumi. Semua manusia berpasang-pasangan. Tidak ada satu negara pun di dunia yang hanya diisi oleh perempuan, atau laki-laki saja. Tidak ada manusia yang mampu mengatur semua itu. Ini menunjukkan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’āla. Manusia diciptakan berpasang-pasangan agar ada keturunan. Peradaban manusia di muka bumi pun akan terus berlanjut.
Kenapa Allah Bersumpah?
Rahasia Allah Subhanahu wa Ta’āla bersumpah dengan tiga makhluk tersebut terdapat dalam ayat keempat. Allah Subhanahu wa Ta’āla berfirman;
اِنَّ سَعۡيَكُمۡ لَشَتّٰىؕ
“Sungguh, usahamu memang beraneka macam.”
Allah Subhanahu wa Ta’āla hendak menegaskan bahwa perbuatan manusia itu berbeda-beda dan bertolak belakang. Sebagaimana perbedaan siang dan malam, dan karakter laki-laki dan perempuan yang bertolak belakang.
Ada manusia yang berbuat berdasarkan pengelihatan terang karena mendapatkan cahaya. Mereka seperti orang yang berjalan di siang hari. Mereka mampu membedakan jurang dan jalanan bagus. Itu merupakan perumpamaan orang-orang beriman dan berama saleh. Dia bisa beriman karena ada cahaya ilahi yang menerpanya. Ia dapat beramal saleh karena mampu melihat benda-benda yang berbeda.
Ada pula manusia yang hidup tanpa cahaya. Hati mereka gelap gulita. Tidak mampu membedakan jurang dan jalanan. Tak mampu membedakan mana haram dan halal. Tak mampu membedakan mana benar dan salah. Bahkan jungkir-balik hidupnya, yang benar dibilang salah dan yang salah dibilang benar. Ini adalah perumpamaan orang kafir yang berada di tengah kegelapan malam.
Sebagaimana manusia diciptakan ada laki-kaki dan perempuan, perbedaan di antara manusia itu mencolok dan cenderung tajam. Kata “sa’yu”menunjukkan masing-masing memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Contoh: ada orang yang keluar rumah pada pagi hari karena sungguh-sungguh ingin menjadi manusia merdeka. Mereka keluar rumah untuk menjadi orang baik. Mereka selalu mengerjakan kebaikan. Ini karena hatinya dipenuhi cahaya kebaikan, sehingga pikirannya penuh dengan kebaikan. Dia terang benderang melihat sesuatu.
Tetapi ada manusia yang keluar pada pagi hari tetap ingin menjadi budak dunia. Ada manusia setiap keluar rumah sebetulnya keluar untuk menjadi penjahat, kendati sudah merasa bekerja. Pekerjaan mereka adalah kejahatan. Itu yang menjadi sumber dari perilaku dan keputusan-keputusannya.
Lalu apa yang dibutukah manusia agar berjalan di atas cahaya? Cahaya yang menjadi penunjuk jalan itu adalah Al-Qur’an. Karena kitab suci ini diturunkan untuk menjadi pedoman bagi umat manusia. Ayat-ayat yang termaktub di dalamnya, merupakan petunjuk dari semua rahasia alam semesta, bahkan tata cara hidup bahagia di akhirat kelak. Maka dari itu, sebenarnya tak perlu lagi mencari pedoman hidup, karena Allah Ta’āla menciptakan manusia disertai dengan kitab pedoman yang memiliki akurasi tinggi. Tidak ada keraguan di dalamnya. Semua ayatnya adalah kebenaran.
(Muhajir)
This article offers a fascinating perspective on the subject. The depth of research and clarity in presentation make it a valuable read for anyone interested in this topic. It’s refreshing to see such well-articulated insights that not only inform but also provoke thoughtful discussion. I particularly appreciated the way the author connected various aspects to provide a comprehensive understanding. It’s clear that a lot of effort went into compiling this piece, and it certainly pays off. Looking forward to reading more from this author and hearing other readers’ thoughts. Keep up the excellent work!