Selasa, 13 Okt 2026
  • Akademi Tadabbur Quran : Terdepan Membangun Peradaban Qur`an dengan Tadabbur
TUTUP MENU

Sudah Puas dengan Narasi Al-Qur’an?

Oleh: KH. Bachtiar Nasir

           Tidak ada narasi perubahan sekuat narasi Al-Qur’an. Kerap terdengar narasi perang yang dilontarkan para tentara. Mereka berebut kemenangan melalui tetesan darah. Namun sayang mereka tidak membawa narasi Al-Qur’an yang membuat semua itu sia-sia.

            Tidak perlu ragu dengan narasi Al-Qur’an. Tidak ada keraguan di dalamnya. Semua ayat-ayat di dalam kitab suci merupakan kebenaran yang sebenar-benarnya kebenaran. Haqqul yaqin. Berpegang teguh pada narasi Al-Qur’an adalah jalan keselamatan. Hidup tak boleh sia-sia dengan hal remeh temeh. Hidup terlalu singkat untuk itu.

            Jalan Al-Qur’an sudah pasti. Surga menjadi tempat kembali jika berada di atas jalan itu. Risikonya memang besar. Harus mengorbankan harta, tenaga, waktu, bahkan nyawa. Tapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjanjikan kebaikan tanpa batas di akhirat kelak.

             Pertanyaannya kemudian: apakah kita sudah puas dengan narasi Al-Qur`an? Apakah sudah hidup di atas narasi itu?

              Setiap orang mempunyai narasi. Namun apakah narasi itu membuat Allah Subhanahu Wa Ta’ala rida? Belum tentu. Al-Qur’an adalah satu-satunya Kitab Suci yang mendatangkan rida-Nya. Narasi Al-Qur’an adalah narasi perubahan. Untuk narasi itu para nabi dan rasul diutus ke muka bumi.

              Jika sudah puas dengan narasi tersebut, maka tinggal memberikan yang terbaik di atas jalan itu. Tidak perlu ragu untuk berkorban harta dan nyawa di atas jalan itu. Orang yang berada di atas jalan itu adalah orang-orang yang sudah memilih melakukan jihad besar dengan Al-Qur’an seperti yang digambarkan dalam surah Al-Furqan ayat 52.

فَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَجَاهِدْهُمْ بِهٖ جِهَادًا كَبِيْرًا

“Maka janganlah engkau taati orang-orang kafir, dan berjuanglah terhadap mereka dengannya (Al-Qur’an) dengan (semangat) perjuangan yang besar.” (QS. Al-Furqan: 52)

             Untuk perubahan besar, kita harus memilih program yang Allah Ta’ala ridai. Ini karena di balik sebuah cita-cita besar ada setan yang sudah menunggu di balik angan-angan kita. Setan masuk ke wilayah angan-angan manusia. Maka perlu kehati-hatian dalam membuat program hidup. Firman-Nya: “Dan aku (iblis) benar-benar akan menyesatkan mereka dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka.’” (QS an-Nisaa’ [4]: 119).

           Maka dari itu, perlu kehati-hatian dalam memutuskan sikap. Meski memakai embel-embel agama, namun tetap harus dipastikan bahwa keputusan itu berlandaskan ayat-ayat Al-Qur’an. Sebab jika tidak demikian maka setan sudah menunggu di balik angan-angan kita.

Jangan Ragukan Narasi Al-Qur’an

             Tidak boleh ada keraguan. Perahu akan segera berlayar. Iman dan takwa harus menjadi modal utama agar bisa sampai ke pantai akhirat dengan selamat. Saat menghadapi badai, tidak perlu goyah. Syarat lolos dari badai hanya satu, terus konsisten di atas jalan kebaikan.

            Tidak perlu berpikir untuk berhenti berbuat baik. Tidak perlu mundur untuk menjadi orang beriman. Teruslah melangkah meski terseok! Terus berjalan dengan kesabaran! Jangan biarkan setan tersenyum karena keputus asaan kita!

             Selalu langitkan harapan bahwa amal ibadah kita mendatangkan keridaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Senjata untuk menghancurkan setan itu pun sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an. Gunakan senjata ikhlas, maka setan akan bertekuk lutut. Tidak perlu berpikir panjang untuk konsisten di atas jalan kebenaran, karena kita tak pernah tau kapan ajal membawa kita ke akhirat. (Muhajir)

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR