Selasa, 13 Okt 2026
  • Akademi Tadabbur Quran : Terdepan Membangun Peradaban Qur`an dengan Tadabbur
TUTUP MENU

Raihlah Takwa yang Tertinggi!

Oleh: KH. Bachtiar Nasir

Puasa diwajibkan bukan tanpa tujuan. Ibadah mulia ini merupakan ujian untuk orang-orang beriman agar bisa mendapatkan kedudukan takwa di sisi Allah Ta’ala. Ini senada dengan firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 183.

Dari keterangan hadits Nabi, diketahui bahwa puasa tak hanya menahan lapar, dahaga, maupun hasrat biologis (seksual), namun juga menahan panca indra dan hati dari perbuatan yang dilarang oleh Allah Ta’ala. Semua hal tersebut dilakukan dalam rangka menggapai kedudukan taqwa.

Lalu apa yang dimaksud dengan takwa? Saat Abu Hurairah ra. ditanya tentang takwa, beliau menjelaskan: “Apakah engkau pernah berjalan di atas jalan berduri?” Sang penanya pun menjawab, “Ya, pernah.“

Kemudian Abu Hurairah melanjutkan pertanyaannya, “Apa yang engkau perbuat?” Orang yang bertanya menjawab, “Jika aku melihat duri, aku akan menghindar darinya, atau melangkahinya, atau mundur darinya.” Lalu Abu Hurairah ra merespon, “Itulah takwa” (Ibnu Rajab, Jāmi’ul Ulūm wal Hikam).

Kedudukan takwa ini menjadi target tahunan dari kaum mukminin dengan pelaksanaan shaum (puasa) Ramadhan. Ini menunjukkan kedudukan takwa tersebut bertingkat-tingkat yang harus dicapai secara bertahap, sehingga Allah meminta kepada kaum mukminin untuk selalu meningkatkan ketakwaannya, salah satunya dengan melaksanakan puasa Ramadhan.

Ramadhan kali ini menjadi momen penting untuk meraih derajat takwa paling tinggi. Ini merupakan perintah yang termaktub dalam Al-Qur’an. Dia berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya,” (QS. Ali Imran [3]:102)

Tingkatan takwa terendah adalah menyingkirikan duri di jalan. Takwa tertinggi adalah tauhid, hidup dan mati untuk  lā ilāha illallāh. Ramadhan kali ini harus menjadi Ramadhan terhebat sepanjang sejarah hidup kita dengan menjadikan takwa sebagai target pencapaian.

Untuk mencapai target tersebut, semua perbuatan yang mendatangkan ketakwaan harus menjadi agenda setiap hari selama bulan ramadhan. seperti memperbanyak zikir  lā ilāha illallāh, mendedikasikan hidup dan berjuang demi tegaknya lā ilāha illallāh, berharap agar mati untuk  lā ilāha illallāh, dan akhir kata sebelum wafat adalah lā ilāha illallāh.

Demikian juga dalam praktik keseharian, kita harus menjalankan prinsip lā ilāha illallāh dan semua faktor penting untuk menegakkan kalimat tersebut. Masalahnya, kedahsyatan kalimat itu hanya bisa dirasakan oleh orang yang sering membacanya.

Ini sebagaimana Rasulullah dan para sahabat dalam perang Badar. Mereka ingin mencapai garis takwa yang paling depan. Demikian juga saat para sahabat nabi pada penaklukkan Kota Makkah. Begitu semangat jiwa orang-orang mulia yang ingin menjalankan takwa paling tinggi di dalam hidupnya. Semoga Allah mengaruniakan kepada kita kesuksesan untuk mencapai takwa yang tertinggi. (Muhajir)

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR