Selasa, 13 Okt 2026
  • Akademi Tadabbur Quran : Terdepan Membangun Peradaban Qur`an dengan Tadabbur
TUTUP MENU

Ramadhan, Bulan untuk Menunjukkan Ketaatan Sempurna

Oleh: KH. Bachtiar Nasir

Nilai penting yang harus dijadikan pegangan untuk mencapai target ketaatan adalah menunjukkan ketaatan yang paling sempurna kepada Allah Ta’ala. Tentu orang-orang yang berjiwa maju dan bermental selalu ingin menjadi yang terdepan dalam kebaikan pasti akan memanfaatkan momentum hebat Ramadhan kali ini untuk menjadi pemenang.

Lawan kata taat adalah maksiat, maka jauhi maksiat-maksiat, mulai dari yang paling dalam di dalam hati sampai pada sesuatu yang tampak. Bukan orang yang diharapkan puasanya oleh Allah, kalau belum bisa meninggalkan maksiat.Tidak ada gunanya bagi orang-orang yang menahan lapar, menahan haus, kalau masih saja melaksanakan maksiat di dalam hatinya, apalagi kalau direalisasikan dalam bentuk perbuatan dan perkataan.

Salah satu contoh ketaatan sempurna dapat dilihat dari sosok Nabi Ibrahim as. Ibrahim bertahun-tahun menantikan seorng anak, sampai akhirnya Allah memberikan kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. (QS. As-Shaaffaat [37]: 101). Ismail lahir, tentu tidak bisa digambarkan bagaimana kebahagiaan Nabi Ibrahim as. kala itu. Namun rupanya Allah menguji kecintaan dan keta’atan Ibrahim kepada-Nya.

Allah Ta’ala kemudian memerintahkan Nabi Ibrahim untuk meninggalkan istri dan anaknya yang baru lahir di sebuah padang pasir gersang. Tidak ada tumbuhan, tidak ada air, apalagi makanan. Bayangkan! Hati suami dan ayah mana yang tega meninggalkan orang yang dicintainya dalam keadaan seperti itu? Namun, Nabi Ibrahim menjalankannya.

Istrinya Siti Hajar pun demikian. Dia ikhlas ditinggalkan suami di padang pasir gersang tersebut. Hanya dia dan anaknya. Siti Hajar yakin, bahwa Allah yang menjamin kehidupannya dan anaknya. Allah mengganti ketaatan dan pengorbanan Siti Hajar dengan berkah yang luar biasa besar. Padang pasir gersang menjadi daerah subur penuh kekayaan alam. Didatangi oleh beratus-ratus juta jamaah setiap tahunnya. Di sana juga ada Air Zamzam yang tidak pernah kering. Itulah hadiah ketaatan Siti Hajar. Berkahnya masih kita rasakan sampai sekarang.

Menariknya, ujian ketaatan Ibrahim tak sampai di situ. Allah mempertemukan Ibrahim dengan putra tercintanya, Ismail. Rasa rindu yang luar biasa terbayar saat melihat anaknya tumbuh menjadi anak saleh. Kebahagiaan tiada terkira saat pulang berdakwah bisa bersua dengan anak istri. Kebahagiaan itu rupanya tak berlangsung lama, karena Ibrahim mendapat ujian selanjutnya. Melalui mimpi, Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih Ismail.

Tatkala Ibrahim menceritakan mimpinya kepada Ismail, Ismail menjawab dengan jawaban yang luar biasa. “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, InsyaAllah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. As-Shaaffaat [37]:102) Sebuah jawaban yang memperlihatkan betapa besar ketaatan Ismail kepada Allah.

Ketika Ibrahim mulai melaksanakan perintah tersebut, pada saat itu Allah menebus Ismail dengan seekor sembelihan yang besar. Peristiwa inilah yang menjadi dasar disyari’atkannya qurban yang dilakukan pada hari raya haji (Idul Adha).

Oleh karena itu, selagi masih ada kesempatan, jadikanlah Ramadhan sebagai momen untuk memperkuat ketaatan kepada Allah Ta’ala. Jangan sampai Ramadhan pergi, dan kita tak memiliki peningkatan dalam hal ketaatan. (Muhajir)

Post Terkait

1 Komentar

Andi Bachtiar, Sabtu, 31 Jul 2021

Sulitnya mempertahankan marwah ramadhan.Begitu ramadhan berlalu,menurun juga semangat ibadahnya,bahkan terlaksana juga pembangkangan kpd gusti Allah,culas,kikir,dll
Kadang kadang sikap kita jd seperti pedagang terhadap Allah.klo ada janji pahala besar seperti di masa ramadhan,kita giat ber sedekah,infak,sholat tathawu’,klo ramadan berlalu..
Ya muqalibal qulub..tsabit qolbi ‘ala thoa’tiq…

Balas

KELUAR